Untuk apa kau malu?
Faktanya kita tidak memiliki sebuah pilihan ketika
kita terlahir di dunia ini, kala itu kita hanya bisa membuka mata meskipun mata
kita masih belum dapat melihat, mulut kita hanya bisa ketika kita keluar dari rahim sang ibu. Dan
faktanya hampir seluruh bayi ‘’normal’’ didunia juga pasti pernah merasakan
momen momen indah tersebut. Namun yang harus kita sadari adalah, terdapat
adanya perbedaan bagi tiap tiap manusia setelah melewati jenjang ini.
Kita menyadari dimana saat ini kita sedang bernaung,
bagaimana kondisi keluarga yang saat ini kita miliki, dan bagaimana perlakuan
mereka terhadap kita?. Kita tidak pernah bisa memilihnya. Memang beberapa orang
mendapatkan sebuah keberuntungan untuk dilahirkan pada sebuah keluarga yang
dapat dikatakan nyaris sempurna. Dengan memiliki sepasang orang tua yang baik
hati, penyabar, cerdas, dan termasuk dalam sebuah keluarga yang kaya dan
terhormat. Dan hal tersebut juga berpengaruh terhadap kualitas hidup yang dia
jalani. Dimana sejak kecil orang tuanya selalu merawatnya dengan totalitas.
Memberikan asupan gizi yang cukup, memberikan pendidikan yang layak dan
terbaik, tinggal di rumah yang besar dan bagus. Mendapatkan segala kenyamanan
dan tak pernah merasakan kekurangan sama sekali.
Namun dilain sisi juga terdapat sebuah realitas
keluarga yang secara kualitas sangat jauh dari suatu hal yang layak. Mungkin
kita pernah mendapati seorang bayi yang lahir dari keluarga yang sangat miskin,
dengan kondisi orang tua yang secara tidak berpendidikan, lingkungan yang tidak
sehat dan tidak mendidik. Dimana pergaulan disekitar rumahnya sangatlah bebas,
pencurian serta kerusakan moral masyarakatnya juga tumbuh dengan liar. Dan hal
ini juga sangat mempengaruhi kualitas hidupnya, dimana dalam mendapatkan
makanan sehari hari saja kewalahan apalagi untuk sekedar memikirkan gizi,
selain itu keluarga juga dilanda banyak hutang. Mungkin sebagian besar orang
merasakan hal itu.
Memang benar tidak ada yang salah dari kehidupan ini.
Hanya saja, dalam dinamika kehidupan yang begitu kompleks kita merasakan adanya
kesenjangan dalam hidup dan hal ini membuat beberapa orang merasa iri dan
dengki terhadap orang yang selainnya.
Bahkan tak hanya itu saja, beberapa peristiwa
kesenjangan sosial ini juga berpengaruh terhadap pergaulan yang biasa terjadi
pada anak anak remaja. Tak jarang kita mendapati adanya gerombolan remaja yang
berkelompok atas dasar kesamaan derajat atau status. Dimana kelompok ini
bersifat sangat eksklusif dan cenderung mementingkan kelompoknya. Dan tak
jarang pula kelompok ini saling menghina dan tak mau berinteraksi dengan anak –
anak atau remaja lain yang mereka anggap lebih rendah derajatnya ketimbang
anggota kelompok mereka.
Memang menyakitkan jika kita dipandang rendah oleh
yang selainnya. Apalagi jika banyak sekali orang yang menjauhi kita karena
kondisi ekonomi kita yang memang bisa dibilang sedang dalam kondisi kurang. Dan
saya juga bisa merasakan sakitnya jika kita tidak memiliki barang yang orang
selainnya punya, padahal kita tahu sendiri bahwasannya barang tersebut sangat
kita perlukan. Misalkan motor, laptop, dan benda benda yang selainnya. Saya
bisa merasakan hal itu semua, dan pastinya kita akan merasakan bahwasannya
tuhan tidak adil dalam memberikan rezeki kepada ummatnya. Namun itu semua
bukanlah kesalahan tuhan.
Karena tuhan telah berusaha memberikan sesuatu hal
yang baik kepada kita sebagai umatnya. Hanya saja tergantung bagaimana cara
kita memahami dan mensyukuri apa yang telah allah berikan kepada kita. Dan jika
kita bisa melakukannya saya bisa menjamin maka hidup kita akan bisa terasa
indah.
Tak perlulah kita malu terhadap segala kekurangan
kita. Karena tuhan sudah memiliki rencana yang besar dibalik ini semua, hanya
saja tergantung cara kita menjalaninya saja. Karena dengan usaha yang keras dan
kerja yang cerdas bisa menjadikan kehidupan kita akan lebih berwarna.
Apapun yang kau miliki. Tak perlulah kau malu. Karena
hidup ini hanyalah sebuah permainan. Dan kau adalah sang tokoh utama dalam
permainan ini. Dan sang tokoh utama pasti akan memenangkan permainan. Hanya
saja konsekuensi untuk menjadi sang tokoh utama juga harus kita mliki serta.
Apa itu? Sifat optimis dan berani keluar dari zona nyaman.
Karena kedua hal itulah yang bisa membuat hidup kita
seolah olah berubah, dimana dalam menjalani kehidupan, kita kan merasakan
semangat yang lebih membara dalam menyongsong mentari dipagi yang sepi.
Merasakan belaian semangat yang menggelora kedalam jiwa, dan akan
mengimplementasikan kedalam aktivitas yang akan kita jalani.
Tak perlu malu terhadap segala kekurangan kita, karena
tokoh utama yang berada dalam kondisi yang sulit akan membuat kisah tersebut
akan semakin indah. Hanya saja... tergantung presepsi kita dalam
menjalaninya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar